Dishub DKI Bakal Tutup 27 Titik U-Turn untuk Kurangi Macet

Ilustrasi. Kemacetan di Jakarta. (CNN Indonesia/ Adi Ibrahim)
Follow Us

Jurnal Pilar | Ibnu Sayyid Daffa

Jakarta, Pilarnusantara.id – Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta bakal menutup 27 titik putaran (u-turn) untuk mengurangi kemacetan.

Kepala Dishub DKI Syafrin Liputo belum menjelaskan secara rinci 27 titik itu. Namun ia menyebut langkah itu merupakan tindak lanjut dari arahan Penjabat (Pj) Gubernur DKI Heru Budi Hartono.

Bacaan Lainnya

“Sebagaimana arahan Pak Gubernur bahwa tahap awal untuk jangka mendesak kami akan melakukan penutupan 27 putaran, u-turn, 27 titik,” kata Syafrin di Gedung DPRD DKI Jakarta, Selasa (24/1).

Selain itu, Dishub juga bakal menerapkan sistem jalan satu arah pada tujuh titik. Syafrin belum menjelaskan secara rinci tujuh titik tersebut.

“Ada tujuh ruas jalan yang sudah teridentifikasi bisa diterapkan sistem satu arah. Kemudian dalam jangka mendesak kita harapkan bisa mengurangi terjadinya kepadatan lalu lintas di beberapa lokasi ruas jalan,” katanya.

Syafrin menambahkan Dishub juga telah berkoordinasi dengan Google Indonesia untuk menganalisis kondisi lalu lintas di suatu koridor.

Dari hasil analisis akan ditentukan siklus traffic light di jalan tersebut.

“Satu koridor percontohan itu yang dari dari Imam Bonjol, Diponegoro, Proklamasi, Pramuka, sampai ke Jalan Pemuda itu sedang dilakukan analisis, setelah itu dapat kami lakukan tentu pengaturan terhadap siklus time seluruh simpang di koridor itu,” kata Syafrin.

Di tempat yang sama, Dirlantas Polda Metro Jaya Kombes Pol Latif Usman menjelaskan mobilitas masyarakat pada pertengahan Juli 2022, sudah hampir seperti 2019 sebelum pandemi Covid-19.

Hal itu berpengaruh pada indeks kemacetan di Ibu Kota.

“Pada 2019, Jakarta indeks kemacetan sudah 53 persen. Tentunya kalau udah di angka 50 persen sudah sangat mengkhawatirkan. Di angka 40 persen Jakarta itu sudah tidak nyaman,” kata Latif.

Indeks kemacetan sempat turun menjadi 36 persen pada 2020 karena pandemi Covid-19. Lalu turun lagi menjadi 34 persen pada 2021.

“Di kuartal pertama 2022 kita sudah mendekati angka 48 persen kembali. Berarti udah mendekati 50 persen. Awal awal 2022 kita masih nyaman berkendara di Jakarta. Ini kita belum hitung sekarang di akhir 2022, di awal 2023,” katanya.