Jokowi: Ironi, Produsen Sawit Terbesar, Kita Sulit Dapat Minyak Goreng

Jokowi mengakui ada ironi yang dialami Indonesia. Sebagai negara penghasil sawit terbesar di dunia, masyarakat Indonesia sulit dapat minyak goreng.
Follow Us

Jurnal Pilar | Jokowi: Ironi, Produsen Sawit Terbesar, Kita Sulit Dapat Minyak Goreng

Jakarta, Pilarnusantara.id – Presiden Jokowi buka-bukaan soal keputusannya melarang ekspor minyak goreng sawit dan bahan bakunya mulai Kamis (28/4) pukul 00.00. Jokowi mengatakan keputusan itu dasar utamanya adalah kebutuhan pokok masyarakat.

“Saya tegaskan, bagi pemerintah kebutuhan pokok masyarakat adalah yang utama. Ini prioritas tertinggi yang menjadi pertimbangan dalam membuat keputusan,” katanya Rabu (27/4).

Bacaan Lainnya

Ia mengatakan keputusan itu harus diambil karena sebagai negara penghasil sawit terbesar di dunia, Indonesia mengalami ironi.

“Sebagai negara produsen minyak sawit terbesar di dunia, ironi, kita malah sulit dapat minyak goreng,” katanya. 

Presiden Jokowi memutuskan untuk melarang ekspor bahan baku minyak goreng dan minyak goreng mulai Kamis (28/4). Keputusan itu dilakukan supaya pasokan minyak goreng di dalam negeri kembali melimpah dan harganya murah.

Keputusan diambil setelah harga minyak melesat sejak Agustus 2021 lalu dari yang awalnya hanya Rp14 ribu per liter menjadi Rp20 ribu. Sebenarnya pemerintah sudah mengeluarkan banyak kebijakan untuk mengatasi lonjakan harga minyak goreng itu.

Pertama, meluncurkan minyak goreng kemasan sederhana Rp14 ribu per liter di ritel dan pasar tradisional secara bertahap pada Januari-Juni 2022. Total minyak goreng yang digelontorkan Rp2,4 miliar liter.

Untuk menyediakan minyak goreng ini pemerintah menggelontorkan subsidi Rp7,6 triliun yang diambilkan dari dana perkebunan kelapa sawit

Kedua, menerapkan kewajiban bagi produsen memasok minyak goreng di dalam negeri (DMO) sebesar 20 persen dari total volume ekspor mereka dengan harga domestik (DPO) mulai 27 Januari lalu. Dengan kebijakan itu harga eceran tertinggi ditetapkan menjadi tiga.

Yaitu; minyak goreng curah Rp11.500 per liter, minyak goreng kemasan sederhana Rp13.500 per liter, minyak goreng kemasan Rp14 ribu per liter. Harga mulai berlaku 1 Februari 2022.

Meskipun pemerintah sudah jungkir balik mengendalikan harga minyak goreng, yang terjadi malah sebaliknya; muncul masalah baru. Untuk kebijakan satu harga Rp14 ribu, Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Oke Nurwan menyebut kebijakan itu membuat masyarakat menyerbu minyak goreng di ritel.

Akibatnya, minyak goreng jadi langka di pasaran. Pun begitu dengan kebijakan DMO dan DPO.

Karena tak efektif, pemerintah kemudian mengeluarkan kebijakan baru; mencabut harga eceran tertinggi minyak goreng premium dan menyerahkan harganya ke mekanisme pasar dan menaikkan harga eceran tertinggi minyak goreng curah jadi Rp14 ribu per liter.

Setelah kebijakan itu dikeluarkan, harga minyak goreng kemasan melesat jadi sekitar Rp25 ribu per liter. Pun begitu dengan minyak goreng curah. Meski HET sudah ditetapkan Rp14 ribu per kg, sampai saat ini harga minyak goreng curah masih di atas Rp22 ribu per liter.