Lebih dari Seribu Warga NTT Terjangkit DBD dalam 2 Bulan Terakhir

Ilustrasi
Follow Us

Jakarta, PilarNusantara.id – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Nusa Tenggara Timur (NTT) terus bertambah. Dalam kurun waktu empat hari yakni tanggal 7 Februari 2022 hingga 10 Februari 2022 terjadi penambahan 147 kasus baru.

Dinas Kesehatan dan Pencatatan Sipil NTT Jumat (11/2) malam mencatat, laporan kasus per 10 Februari 2022 naik dari 930 kasus dari 6 Februari 2022 ke angka 1.077 kasus.

Penyumbang kasus baru terbanyak di periode 7-10 Februari terjadi di Kabupaten Belu, dengan penambahan kasus baru sebanyak 45 kasus. Penyumbang kasus terbanyak kedua yakni Kabupaten Lembata dengan 18 kasus baru. Sementara itu penyumbang kasus baru terbanyak ketiga adalah Kota Kupang dengan 16 kasus baru.

Secara keseluruhan, kasus DBD terbanyak terdapat di Kabupaten Manggarai Barat dengan jumlah kasus DBD mencapai 212 kasus atau naik 14 kasus dalam kurun waktu empat hari terakhir. Sedangkan Kota Kupang masih dengan jumlah kasus DBD terbanyak kedua di NTT dengan 197 kasus dan satu kasus kematian.

Sedangkan Kabupaten Sikka dengan 136 kasus dengan satu kasus kematian menempati posisi ketiga. Dalam empat hari terakhir ini, Sikka tidak melaporkan adanya penambahan kasus baru.

Beberapa kabupaten lain penyumbang kasus DBD adalah Sumba Barat Daya 97 kasus (1 kematian) Lembata 78 kasus, Belu 69 kasus, Timor Tengah Selatan 37 kasus, Sabu Raijua 35 kasus, Ngada 27 kasus (3 kematian), Flores Timur 31 kasus, Malaka 27 Kasus, Sumba Barat 22 kasus, Sumba Timur 21 kasus, Nagekeo 20 kasus (1 kematian), Timor Tengah Utara 20 kasus, Kabupaten Kupang 14 kasus, Manggarai 13 kasus, Sumba Tengah 7 kasus (1 kematian) dan Ende 7 kasus dan Manggarai Timur 7 kasus baru.

Dinas Kesehatan dan Pencatatan Sipil NTT menyebutkan terdapat tren kenaikan kasus demam berdarah di NTT dibanding periode yang sama tahun lalu, mencapai 58 persen. Tahun lalu, pada periode yang sama tercatat 661 kasus dengan empat kasus kematian.

Meski ada beberapa kabupaten yang mengalami kenaikan hingga empat kali lipat, tapi sampai saat ini belum berstatus kejadian luar biasa (KLB).

Tinggalkan Balasan