Mengapa Santet Sering Dihubungkan Dengan Jawa Timur? Mungkin Ini Jawabannya.

Mengapa Santet Sering Dihubungkan Dengan Jawa Timur? Mungkin Ini Jawabannya.
Follow Us

Jurnal Pilarnusantara | Ahmad Faiza Chalik

Jakarta, Pilarnusantara.id – Banyak orang beranggapan bahwa santet masih ada di Indonesia saat ini. Nyatanya, bukan hanya mereka yang tinggal di lokasi terpencil yang memiliki ide ini. Salah satu daerah yang konon masih banyak menyimpan ilmu santet adalah Jawa Timur (Jawa Timur). Hal ini karena Kabupaten Banyuwangi di wilayah sebelah timur Pulau Jawa diketahui masih mempraktekkan santet.

Mungkin Jawa Timur sering dikaitkan dengan okultisme karena begitu banyak orang di Banyuwangi terlibat dalam sihir.

Bacaan Lainnya

Santet mendapatkan namanya dari bahasa asli daerah Banyuwangi, demikian kutipan dari Politik Santet: Konflik Sosial dan Peran Pemerintah Kabupaten Banyuwangi yang diterbitkan pada Kamis, 26 Januari 2023. Mesian kanthet, yang berarti segalanya lengket, kacau ke atas, atau retak, adalah akar dari akronim Santet.

Ungkapan ini dianggap warga Banyuwangi sebagai welas asih. Sementara messian benthet dianggap sebagai sihir merah, yang berasal dari nafsu dan memiliki nada roh pendendam, messian kanthet dianggap sebagai akar dari sihir kuning, yang membedakan niat sejati dan kemurnian hati.

Meskipun tujuannya berbeda, sulit membedakan ilmu sihir dari bentuk-bentuk tenung lainnya. Karena pola praktik secara keseluruhan bisa dilakukan dengan atau tanpa kontak langsung dengan korban.

Masyarakat sekitar memandang stigma sebagai prestise dan prestisius secara sosial. Jadi, ketika perselisihan muncul di antara para praktisi sihir, persepsi seperti itu sering menimbulkan konflik. Sulit untuk menunjukkan bahwa Banyuwangi menggunakan santet. Masyarakat setempat, menurut jurnal tersebut, boleh saja menggunakan santet asalkan dilakukan dengan niat baik. Akibatnya, sejumlah profesi terkait sihir, termasuk paranormal dan dukun, telah berkembang.

Majalah tersebut juga mengklaim bahwa santet telah berkembang menjadi konstruksi yang mirip dengan tradisi lain yang dianggap sebagai media untuk menjaga keharmonisan antara dunia yang terlihat dan tidak terlihat. Beberapa adat tersebut mulai dari ritual ider Bumi di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, hingga tradisi Kebo-keboan di Desa Alas Malang, Kecamatan Singojuruh.