Ribuan Pengemudi Ojol Jatim Demo di Surabaya Tuntut Evaluasi Tarif

Pengemudi ojol demo menuntut pihak aplikator selaku pemegang keputusan agar mengubah tarif, yakni tarif nett atau bersih yang diterima driver selaku mitra.
Follow Us

Jurnal Pilar | Ribuan Pengemudi Ojol Jatim Demo di Surabaya Tuntut Evaluasi Tarif

Surabaya, Pilarnusantara.id – Ribuan pengendara ojek online dari Front Driver Online Tolak Aplikator Nakal (Frontal) Jawa Timur, turun ke jalanan Kota Surabaya. Mereka menggelar demo menuntut evaluasi tarif angkutan.

Dalam aksi ini Frontal menyasar Kantor Dinas Perhubungan (Dishub) serta Kantor Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Jawa Timur. Kemacetan di kawasan Jalan Ahmad Yani pun tak terhindarkan.

Humas Frontal Daniel Lukas Rorong mengatakan massa aksi tak hanya berasal dari Kota Surabaya saja, namun mereka juga datang dari sejumlah kota di Jatim.

Bacaan Lainnya

“Jumlahnya 1.000 orang. Mereka ada yang datang dari Malang, Banyuwangi, Tuban, sama Gresik,” kata Daniel, Kamis (24/3).

Ketua Presidium Frontal Jatim, Tito Achmad mengatakan setidaknya ada empat poin tuntutan mereka. Pertama, massa meminta ditemui oleh Menteri Perhubungan atau diwakili Dirjen Perhubungan Darat di Surabaya.

Mereka juga meminta pihak aplikator selaku pemegang keputusan mengubah tarif yakni tarif nett atau bersih yang diterima driver selaku mitra.

Demonstran juga mendesak evaluasi biaya tambahan yang diberlakukan oleh aplikasi saat ini, serta meminta pemerintah untuk meninjau dan menindak aplikasi baru yang tidak sesuai dengan aturan yang berlaku.

“Karena kenyataannya, tarif bersih yang diterima oleh rekan-rekan ojol saat ini hanya Rp6.400, bahkan ada aplikasi baru yang menerapkan tarif di bawah itu,” katanya.

Menurutnya hal itu tidak sesuai dengan aturan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah melalui Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 12 Tahun 2019 dan Keputusan Menteri Perhubungan RI Nomor KP 348 Tahun 2019.

Selain itu, lanjut Tito, pihaknya berharap ada evaluasi biaya tambahan yang diberlakukan oleh aplikasi saat ini, yang tentu saja memberatkan customer dan juga mitra.

“Untuk itu, kami menuntut pada Menteri Perhubungan atau diwakili Dirjen Perhubungan Darat untuk bisa hadir. Serta mengimplementasikan aturan yang sudah dibuatnya dan menindak tegas pihak aplikator nakal yang tidak patuh pada PM 12 dan KP 348 khususnya perihal tarif,” kata dia.

Tito juga berharap, pihak aplikator atau pemegang keputusan dari pusat agar bisa mengubah tarif menjadi tarif nett atau bersih yang diterima driver selaku mitra. Serta mengevaluasi biaya tambahan yang diberlakukan oleh aplikasi saat ini.

“Kami berharap ada titik temu dan tuntutan-tuntutan kami dapat dipenuhi,” harap Tito.

Tak hanya aksi, para pengendara ojol juga melakukan sweeping terhadap pengemudi lain yang masih menarik penumpang atau menerima orderan.

Denok mengatakan sweeping ini dilakukan untuk memastikan bahwa pengendara ojol di Jatim satu suara menuntut evaluasi tarif. Meski demikian, kata dia, masih saja ada pengendara yang tak mau mengikuti aksi.

“Tetapi ada puluhan yang dablek (bandel). Semua sudah ada pengumuman, kan ada yang dari Magetan, Madiun, Ponorogo ngapain yang di Surabaya kok masih beroperasi terus,” ujarnya.

Sementara itu, Kasatlantas Polrestabes Surabaya, AKBP Teddy Chandra mengatakan meski massa ojol menggelar aksi, ia memastikan lalu lintas tetap bisa dilewati.

“Terkait aksi Frontal arus lalu lintas kami jalankan seperti biasa. Ada 245 personel yang berjaga,” kata Teddy.

Bagi kendaraan motor dan mobil yang hendak melintas di kawasan Ahmad Yani, diimbau untuk melintasi jalur utama atau Frontage A. Selain itu, juga bisa melintasi sejumlah jalur alternatif, diantaranya Jalan Gayungan, Jalan Kebonsari, Jalan Jambangan hingga Jalan Pagesangan.

“Kami upayakan jalur Frontage Ahmad Yani tetap bisa digunakan pengguna jalan lainnya, jadi kita arahkan 2-3 jalur saja. Sehingga satu lajur atau situasional bisa lewat frontage tapi situasional kita arahkan lewat jalan protokol,” pungkas dia.